Pages

Monday, December 13, 2010

Bencana alam yang terjadi di Indonesia sekarang sekarang ini

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan rahmat dan karunia-Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Bencana alam yang terjadi di Indonesia sekarang sekarang ini” yang disusun untuk memenuhi tugas terstruktur mata kuliah Ilmu social dasar.
Kami  mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah banyak membantu kami  agar dapat menyelesaikan makalah ini. Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara tidak langsung telah membantu kami dalam penyusunan makalah ini. Kami yakin tanpa adanya bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, karya tulis ini tidak akan terwujud.
Selama proses pengumpulan data hingga akhirnya sampai pada penyusunan makalah, kami menyadari masih banyak kekurangan ataupun kesalahan dalam penyusunannya. Oleh karena itu, saran dan kritik yang sifatnya membangun semangat kami harapkan agar kami bisa menjadi lebih baik lagi dimasa yang akan datang.
Akhir kata kami ucapkan terima kasih, semoga apa yang kami tulis dapat bermanfaat bagi kita semua.


                                                                                          Depok, 13 Desember 2010




                                                                                                          Penulis


DAFTAR ISI

I.        Pendahuluan              
1.1 Latar Belakang……………………………………………
1.2 Tujuan……………………………………………….…….
1.3 Pembahasan masalah…………………………………….............

II.      Pembahasan
1.1. Kondisi masyarakat mentawai pasca meletusnya gunung berapi
1.2.waspada dalam gunung berapi

III.    Penutup
1.1 Kesimpulan………………………………………………………
1.2 Saran………………………………………………………………

Daftar Pustaka



1.1 LATAR BELAKANG

Bencana alam adalah konsekuensi dari kombinasi aktivitas alami (suatu peristiwa fisik, seperti letusan gunung, gempa bumi, tanah longsor, Tsunami) dan aktivitas manusia. Karena ketidakberdayaan manusia, akibat kurang baiknya manajemen keadaan darurat, sehingga menyebabkan kerugian dalam bidang keuangan dan struktural, bahkan sampai kematian. Kerugian yang dihasilkan tergantung pada kemampuan untuk mencegah atau menghindari bencana dan daya tahan mereka.

1.2  TUJUAN

Membentuk dan meningkatkan sikap positif terhadap hubungan sosial masyarakat dengan menyadari/memperingatkan agar menjaga, mencintai, menyayangi keindahan alam serta mengagungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.

1.3 PEMBAHASAN MASALAH

Pemahaman ini berhubungan dengan pernyataan: "bencana muncul bila ancaman bahaya bertemu dengan ketidakberdayaan". Dengan demikian, aktivitas alam yang berbahaya tidak akan menjadi bencana alam di daerah tanpa ketidakberdayaan manusia, misalnya gempa bumi di wilayah tak berpenghuni. Konsekuensinya, pemakaian istilah "alam" juga ditentang karena peristiwa tersebut bukan hanya bahaya atau malapetaka tanpa keterlibatan manusia. Besarnya potensi kerugian juga tergantung pada bentuk bahayanya sendiri, mulai dari kebakaran, yang mengancam bangunan individual, sampai peristiwa tubrukan meteor besar yang berpotensi mengakhiri peradaban umat manusia.
Namun demikian pada daerah yang memiliki tingkat bahaya tinggi (hazard) serta memiliki kerentanan/kerawanan (vulnerability) yang juga tinggi tidak akan memberi dampak yang hebat/luas jika manusia yang berada disana memiliki ketahanan terhadap bencana (disaster resilience). Konsep ketahanan bencana merupakan valuasi kemampuan sistem dan infrastruktur-infrastruktur untuk mendeteksi, mencegah & menangani tantangan-tantangan serius yang hadir. Dengan demikian meskipun daerah tersebut rawan bencana dengan jumlah penduduk yang besar jika diimbangi dengan ketetahanan terhadap bencana yang cukup.



BAB II PEMBAHASAN

Kondisi Masyarakat Mentawai Pasca Meletusnya Gunung Berapi

Pada hari, Selasa 26 Oktober  2010. Gunung itu mulai mengeluarkan awan panas mematikan,yang dinamakan ‘wedus gembel’, lalu beberapa sesaat kemudian, asap yang setinggi 1,5 kilometer melangit dari kawah gunung tersebut.
Dalam kondisi gelap gulita karena listrik mati, warga yang sedang panik berusaha menyelamatkan diri dan keluarganya. Teriakan dan perintah mengungsi beradu dengan suara sirine yang berpekik meraung. Tak semua warga selamat dari letuasan gunung merapai tsb, letusan Merapi banyak merenggut 35 jiwa, termasuk sang kuncen, yaitu Mbah Maridjan. Wedus gembel juga menerjang pohon, bangunan dan hewan ternak di daerah pemukiman. Kampung Mbah Maridjan di Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, porak poranda dikubur oleh abu panas. Dan abu tebal itu membuat segalanya nampak putih kecokelatan. Hampir saja,semua bangunan hancur, kecuali masjid kampung yang masih berdiri tegak meski tak lagi utuh seperti masjid awalnya.. ketika Letusan sudah usai, namun Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), mengingatkan agar semua pihak terutama masyarakat sekitar gunung Merapi Yogyakarta senantiasa siaga. Meski terlihat tenang. Ancaman Merapi masih mengintai.  Kita tidak boleh lengah terhadap bencana yang kita hadapi, namun justru terjadi karena kita lengah, Soal Merapi, para pengamat gunung berapi memang berpacu dengan waktu. Proses menuju erupsi terhitung sangat cepat. Data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mencatat, perubahan status dari Normal menjadi Waspada terjadi pada tanggal 20 September 2010. Sebulan kemudian, pada  tanggal 21 Oktober 2010, statusnya berubah menjadi Siaga dan yang kemudian menjadi Awas pada level tertinggi, namun empat hari kemudian pada 25 Oktober 2010, hanya sehari sebelum Merapi ‘meletus’.

Kondisi Fasilitas Telekomunikasi Pasca Gempa Bumi dan Tsunami di Mentawai dan Letusan Gunung Merapi

Sebagaimana dilaporkan oleh Badan Meteorologi dan Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pada hari Senin tanggal 25 Oktober 2010 jam 21.42 WIB telah terjadi gempa bumi sebesar 7,2 di sekitar Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Gempa bumi tersebut disusul dengan bencana gelombang tsunami yang telah mengakibatkan korban jiwa sebanyak lebih dari 112 orang tewas (data tanggal 27 Oktober 2010 pagi) dan belum terhitung yang hilang dan masih belum diketemukan. Tidak berselang lama atau kurang dari 24 jam berikutnya telah terjadi juga bencana alam yang menelan 26 korban jiwa tewas (data tanggal 237 Oktober 2010 pagi) dan puluhan terluka sebagai akibat meletusnya Gunung Merapi di perbatasan DIY dan Jawa Tengah pada tanggal 26 Oktober 2010 pada sekitar jam 17.30 WIB yang diawali dengan mulai memuntahnya awan panas secara eksplosif..
Sesuai dengan kewenangan dan tanggung-jawabnya, Kementerian Kominfo telah melakukan koordinasi secara cepat dengan para penyelenggara telekomunikasi. Berdasarkan laporan terkini, kondisi masing-masing adalah sebagai berikut:
Gempa bumi dan tsunami di Mentawai.
Khusus mengenai kondisi di Mentawai, terdapat 2 penyelenggara telekomunikasi yang selama ini memiliki jaringan di Mentawai, yaitu PT Telkom dan PT Telkomsel.
Ketika terjadi gempa bumi, jaringan PT Telkom tetap berfungsi meski ada kerusakan sehingga kurang berfungsi secara optimal, baik untuk layanan berbasis kabel maupun FlexiTelkom. Namun secara bertahap kondisi tersebut segera dapat dipulihkan dan sejak tanggal 26 Oktober siang sudah menuju ke arah normal.
PT Telkom telah membuka pusat posko di kantor PT Telkom di Tua Pejat (dekat kantor Bupati Mentawai) dengan nomer telfon 0759.320198 dan 0759.320200 secara gratis. Sedangkan di lokasi terjadinya tsunami selama ini memang belum ada fasilitas telekomunikasi, khususnya di Kecamatan Malakopak dan Dusun Muntae.
Akan halnya PT Telkomsel, memiliki 5 BTS di Mentawai, dimana saat terjadinya gempa bumi dan tsunami mengakibatkan 3 BTS tidak berfungsi karena kelangkaan catu daya energi, dan 2 BTS lainnya berfungsi tetap normal. Namun 3 BTS yang tidak berfungsi tersebut saat ini dalam kondisi menuju normalisasi sambil menunggu supai energi yang dijanjikan melalui fasilitas angkutan laut yang dikirimkan dari Pelabuhan Padang seandainya gelombang laut yang masih cukup tinggi berangsur mulai normal.
Bahwasanya komunikasi telekomunikasi sempat terganggu adalah benar, namun tidak sampai terputus total, karena yang terjadi adalah lonjakan trafik telekomunikasi yang sangat tinggi baik incoming maupun outgoing tetap cukup lancar meskipun infrastruktur telekomunikasi mengalami keterbatasan untuk menyediakan layanan secara optimal.
Di luar kontribusi penyelenggara telekomunikasi, turut pula terlibat aktif untuk back up komunikasi adalah ORARI dan RAPI di Sumatera Barat (dan didukung sepenuhnya juga tenaga dari Jakarta), khususnya untuk mengatasi masalah komunikasi di daerah-daerah terpencil di Mentawai yang belum tersentuh fasilitas telekomunikasi.

Letusan Gunung Merapi di DIY dan Jawa Tengah.


Kondisi layanan telekomunikasi relatif tetap lancar dan tidak ada gangguan meskipun terhitung sejak jam 18.00 WIB tanggal 26 Oktober 2010 terjadi lonjakan trafik telekomunikasi yang tinggi baik incoming maupun outgoing di sekitar lereng Gunung Merapi, khususnya di Sleman, Magelang dan juga Klaten.
Terhitung sejak tanggal 26 Oktober 2010 sudah ada 4 penyelenggara telekomunikasi yang mendirikan posko di Sleman dan Magelang: PT XL Axiata, PT Telkom, PT Telkomsel dan PT Indosat. Diharapkan sejumlah penyelenggara telekomunikasi lainnya segera melakukan hal yang sama. Fungsi posko tersebut tidak hanya untuk memonitor kualitas layanan di sekitar lereng Gunung Merapi, tetapi juga melayani fasilitas telefon gratis dan memberikan bantuan sosial tertentu. Di samping itu juga untuk up link dan down link bagi sejumlah wartawan yang akan mengirimkan beritanya dari posko tersebut, seperti yang disediakan oleh PT Telkom di STO Pakem, Sleman.
Kementerian Kominfo akan terus melakukan monitoring dan koordinasi dengan para penyelenggara telekomunikasi terhadap pemulihan pasca gempa bumi idan Tsunami di Mentawai dan letusan Gunung Merapi di DIY dan Jawa Tengah ini dan bilamana perlu memberitahukannya secara terbuka kepada masyarakat.
Mengingat kondisi bencana alam cukup sering terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia, Kementerian Kominfo pada tanggal 27 Oktober 2010 pagi telah mengadakan rapat khusus yang membahas evaluasi terhadap sejumlah penanganan bencana alam yang selama ini di bawah koordinasi Kementerian Kominfo. Rapat tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat Kementerian Kominfo dan perwakilan dari penyelenggara telekomunikai dan RAPI serta ORARI. Beberapa hal penting yang dapat dipublikasikan adalah sebagai berikut:
Para penyelenggara telekomunikasi tetap berkomitmen bersama Kementerian Kominfo untuk membantu Badan Nasional Penanggulangan Bencana sesuai dengan ruang lingkup Kementerian Kominfo.
Berdasarkan pengalaman sejumlah bencana alam dan terakhir sebelum ini di Wasior akibat banjir bandang dan tanah longsor, maka persoalan utama lebih pada masalah kelangkaan suplai energi (khususnya solar), sehingga diputuskan untuk lebih meningkatkan antisipasinya di sekitar daerah yang tergolong ring of fire (lintasan vulkanik) dan daerah yang sering berpotensi banjir.
Kementerian Kominfo akan terlibat aktif dalam kegiatan ASEAN Regional Disaster Response Simulation Exercise 2010 yang akan diselenggarakan di di Cilegon pada tanggal 30 Oktober s/d. 5 November 2010 di bawah koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan diikuti oleh berbagai instansi.
Informasi penting ini perlu disampaikan mengingat cukup banyaknya pertanyaan yang masuk ke Kementerian Kominfo, sehingga menjadi kewajiban pula bagi Kementerian Kominfo sebagau suatu Badan Publik untuk sesegera mungkin meresponnya secara lengkap sebagaimana diatur pada Pasal 10 UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Pasal tersebut menyebutkan, bahwa:
(1) Badan Publik wajib mengumumkan secara sertamerta suatu informasi yang dapat mengancam hajat hidup orang banyak dan ketertiban umum;
(2) Kewajiban menyebarluaskan Informasi Publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan dengan cara yang mudah dijangkau oleh masyarakat dan dalam bahasa yang mudah dipahami.

Lokasi Bencana Merapi Kini Jadi Tempat Wisata

Liputan6.com, Magelang: Sejumlah lokasi yang terendam banjir lahar dingin Merapi di Magelang, Jawa Tengah, kini berubah layaknya lokasi wisata bencana. Hal itu seperti terjadi di Dusun Gempol, Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, Magelang. Di lokasi yang terendam akibat luapan lahar dingin Kali Putih tersebut, tiap harinya selalu didatangi ratusan warga dari berbagai daerah yang hilir mudik memadati pinggir sungai atau di permukiman penduduk yang terendam.

Berdasarkan pantauan SCTV, Senin (13/12), warga yang yang berdatangan umumnya melihat lokasi bencana sekaligus berfoto. Namun demikian para pengunjung juga mengaku turut prihatin atas musibah yang menimpa. Terutama, warga yang rumahnya rusak akibat diterjang banjir lahar dingin Merapi.

Kini, lokasi yang tepat berada di pinggir Jalan Raya Magelang-Yogyakarta tersebut juga dimanfaatkan warga setempat untuk meminta sumbangan sukarela. Uang hasil sumbangan yang terkumpul digunakan untuk membantu masyarakat yang tertimpa musibah akibat terjangan lahar dingin Merapi.

Banjir lahar dingin Merapi yang cukup besar tersebut terjadi pada Ahad (5/12) pekan silam. Luapan lahar di Kali Putih tersebut membuat sedikitnya 12 rumah terendam pasir dan puluhan kios di Pasar Gempol, Desa Jumoyo hancur.



BAB III PENUTUP

1.1 Kesimpulan
Banyak terjadi nya bencana di Indonesia sekarang ini selain karena alam dan kondisi bumi kita yang semakin tua tapi ini merupakan ulah kita sebagai MANUSIA yang tidak perduli dengan lingkungan, sekitar dan sebagainya.

1.2 Saran
Kita sebagai manusia harus lebih mencintai alam semesta ini yang sudah di berikan oleh Tuhan YME, dengan melindungi hutan, tanaman, dan daerah sekitar kita.


Daftar Pustaka

http://id.wikipedia.org/wiki/Bencana_alam
http://berita.liputan6.com/daerah/201012/311137/Lokasi.Bencana.Merapi.Kini.Jadi.Tempat.Wisata
http://senkombws.blogspot.com/2010/11/kondisi-fasilitas-telekomunikasi-pasca.html

No comments:

Post a Comment